Pencari Kayu Gaharu di Morotai Ditemukan Tewas di Hutan

MOROTAI,HR—-Taher Rasaji (49) salah satu  warga Desa Totodoku Kecamatan Morotai Selatan (Morsel) ditemukan tidak bernyawa dan sudah mengeluarkan bau busuk ditengah hutan Desa Bere-Bere Kecamatan Morotai Utara (Morut), Sabtu (12/05/2018).

Kepala Desa (Kades) Totodoku Kecamatan Morsel Kamsul Lating, ketika di Konfirmasi di kediamannya mengungkapkan, korban (Taher Rasaji) yang diketahui asal Loloda Kabupaten Halmahera Utara (Halut) yang berdomisili di Desa nya itu (Totodoku) meninggal ditengah hutan pada saat mencari kayu berjenis Gaharu di Desa Bere-bere Kecamatan Morut. 

Dia menceritakan, pada Selasa (01/05/2018) korban bersama kedua temannya, Sahri Siruang asal Desa Sangowo Kecamatan Mortim dan Samsuri asal Desa Gorua Kecamatan Morut itu pergi ke hutan untuk mencari kayu gaharu untuk memenuhi kebutuhan dalam menghadapi bulan suci ramadhan, tetapi setibanya di lokasi mereka mencari kayu tersebut pada Pukul 14.30 korban tiba-tiba menghilang tanpa pamit kepada kedua temannya Sahri dan Samsuri. 

Pada saat tiba di lokasi dimana mereka membuat tempat nginap itu sekirar Pukul 14.30, jadi karena menurut mereka masi bisa untuk menacri gaharu maka pada saat itu juga mereka berpisah untuk survei lokasi kayu gaharu, tiba-tiba ada satu temannya sudah temukan barang yang dicari itu dan memanggil kedua temannya namum korban tidak kunjung membalas panggilan tersebut.

Bahkan pencarian terhadap korban dilakukan hingga pada malam hari pukul 11.00, tetapi korban tidak kunjung ditemukan. Keduanya pun bergegas untuk balik ke tempat nginap dan dilanjutkan pencarian pada hari Rabu (2/5/2018). Namun, upaya kedua rekan korban tidak membuahkan hasil, dan memilih pulang ke kampung dan memberitahukan warga untuk mencarinya.

Pencarian dilakukan selama kurang lebih dua minggu, baru korban ditemukan sudah tidak bernyawa oleh teman korban (Samsuri) di hutan dalam kondisi duduk di tepi jurang dengan perlengkapan berupa parang (Peda) dan tempat air serta berpakaian lengkap. 

“Jadi korban itu ditemukan pada hari Sabtu (13/05/2018) kemarin, dan pada saat korban ditemukan langsung diinformasikan kepada pihak keluarga korban di Totodoku, dan Pada Jam 08.00 malam keluarga korban masuk ke hutan menggunakan mobil untuk proses evakuasinya, dan pada Jam 10 malam korban pun berhasil dikeluarkan dari hutan kemudian langsung di bawa ke Desa Totodoku pada jam 01.30 malam Dini hari,”ungkap Kades Kamsul Lanting kepada Halmahera Raya.Info, Minggu (13/05/2018).

Ditanya apakah ada indikasi penganiayaan, Kades lantas dengan sontak mengungkapkan, jika dilihat dari jasad korban tidak ada bekas penganiayaan, dan kematian korban hanya itu diduga karena ada unsur penyakitnya saja.

“Memang dari pihak keluarga Korban itu ingin melakukan otopsi untuk mengetahui sebab kematian korban, hanya saja kami bersama dengan keluarga korban dan pihak kepolisian berembuk untuk membicarakan agar tidak diotopsi sebab kondisi korban sudah mulai membengkak dan bau, jadi dari pembicaraan itu melahirkan kesepakatan agar korban segera dimakamkan lantaran kondisi tubuh sudah tidak baik,”jelasnya.

Terpisah, Sudarmi Gilalo yang juga sebagai istri korban ketika dikonfirmasi mengungkapkan bahwa, Dirinya kini hanya menyerahkan kepada sang Khalit,”Saya ihlas kepergian suami saya, hanya saja keluarga dari suami saya itu hanya mau otopsi tapi saya tidak mau sebab kondisi mayat suami saya sudah bengkak dan sudah mengeluarkan bau yang tidak sedap, sehingga pada Jam 08.00 hari ini jasad suami saya langsung dimakamkan,”pungkasnya. (lud) 

Komentar Facebook
Baca Juga  Ridho Sang Jurnalis Berdiri Bersama Rakyat

1 Comment on this Post

  1. korupsi harus benar2 dibasmi terutama untuk bantuan yang masuk kedesa baik berupa uang tunai atau barang perlu dikawal ketat, karena relaita yang terjadi didesa tawakali kec, morotai utara , masih bermain2 dengan itu.
    ada banyak keluhan masyarakat desa tawakali mengenai beberapa bantuan.
    1. bantuan dapur sehat masih juga belum selesai karena masyarakat yang mendapat bantuan dapur sehat tidak berapa jumlah uang per 1 unit dapur, karena semua diambil alih oleh kepala desa. mulai dari material sampai sewah tukang. dan pada kenyataan samapi pada saat ini, biaya para tukangpun belum di lunasih . akhirnyamasih banyak dapur sehat belum selesai.
    2. bantuar perbaikan air bersih. 30 juta. tetapi realita yang terjadi banyak keluhan masrakat karena banyak kran air yang rusak belum juga di perbaiki. lantas dikemanakan dan 30 juta itu.
    3. jembatan tani di desa tawakali anggaran kurang 30 juta. samapi saat ini hanya fondasinya saja yang jadi. lantas dikemanakan dana jembatan tersebut.
    4. keluhan dari seorang bendahara panitia pemilihan BPD di desa tawakali, mengatakan bahwa: samapi saat ini honor para panitia, belum juga dibayar. bendahara Panitia mengatakan kurang lebih 5 juta rupiah untuk 8 orang panitia pelansana sudah di pakai oleh kepala desa untuk beli can pagar tembok. beberapa warga mengatakan cat tembok tersebut bukan dibeli pakkades tetapi itu adalah cat dapur sehat. lantas dikemanakan dana tersebut?. untuk itu pemeriksaan kedesa2 harus segreha dilaksanakan dan lebih ketat lagi terutama mengenai anggaran desa juga bantuan2 pemerintah yang telah di berikan kepada desa. dan ini harus segerah mungkin dilaksanakan . saya sebagai warga desa tawakali hanya menyampaikan. karena kalautidak jangan samapi ada hal2 yang tidak kita ingin kan terjadi didesa tawakali. untuk lebih jelsnya saya akan mengirimkan beberapa bukti untuk hal diatas. terimakasih

    Balas

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.