Ternate Darurat Lingkungan, Pelaku Usaha Wajib Miliki Ipal

TERNATE,HR—– Cepat atau lambat penggunaan air di Kota Ternate akan menjadi masalah yang serius. Sebab, Ternate sebagai kota pulau dengan jumlah penduduk kurang lebih 218.000 jiwa dan makin tergerusnya tanah sebagai tempat resapan air yang alih fungsi menjadi rumah-rumah penduduk.

Syarif Tjan, pakar lingkungan hidup menyebutkan data dari WHO untuk kota-kota berkembang, volume air  yang digunakan di Kota Ternate sebanyak 27.500.000 liter per hari atau setara 2.250 meter kubik per hari, dimana per orang menggunakan 125 liter per hari yang bersumber dari sumber limbah terbesar itu dari dapur, kamar mandi, cucian dan toilet.

“Penggunaan air sebesar ini menghasilkan limbah yang sama pula, ada dua kelompok pengguna pyakni pengguna domestik atau masyarakat dan pelaku usaha, RS, Hotel dan Restoran harus mengelola air limbah, pelaku usaha diwajibkan untuk mengelola dan domestik diminta untuk menyediakan fasilitas oleh pemerintah,” katanya saat ditemui di Jarod Cafe, Selasa (19/3).

Syarif menyebutkan, jika air limbah ini tidak dikelolah dengan baik maka akan menjadi ancaman kedepan, seperti sanitasi, pencemaran lingkungan dan krisis air, karena air limbah yang masuk ke air tanah akan bercampur dengan air tanah sehingga tercemar, dan apabila tidak ada keseimbangan dengan membuat IPAL.

Pengelolaan air limbah diatur dalam beberapa regulasi seperti UU nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolan Lingkungan, Permen LHK/ nomor P.68 tahun 2016 tentang Baku Mutu Air Limbah Domistik dan Peraturan Pemerintah nomor 27 tahun 2012 tentang Izin Lingkungan, yang mewajibkan adanya Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL).

“Problem kita adah instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) sangat mahal, dalam segi pembuatan, operasi dan perawatan yang berbiaya tinggi kurang lebih Rp 200 hingga Rp. 300 juta, sehingga kita perlu mencari solusi untuk ini, maka itu saya berinsiatif untuk menyediakan IPAL yang murah,” ungkapnya.

Baca Juga  Apdesi Halut Desak Aparat Copot Baliho Provokatif

Menurutnya, IPAL murah yang disediakan ini telah sesuai dengan standar yang dipersyaratkan oleh Kementrian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indoenesia yang dapat dipertanggungjawabkan. Bahkan, Syarif Tjan yang telah mengantongi lisensi AMDAL A, B , C dan sertifikasi proper dan sertifikasi air limbah siap menerima konsultasi bagi pelaku usah.

“Masih banyak pelaku usaha di Kota Ternate yang belum memiliki IPAL, sehingga perlu dibangun IPAL karena ada sanksi pidana yang menyertainya,” tegasnya.

Lanjut dia, demi masa depan lingkuang di kota Ternate, maka isu lingkungan menjadi tanggujawab moril untuk disampaikan. Sebab, sadar atau tidak, cepat atau lambat, jika hal ini terus dibiarkan dan pandang sebelah mata maka kita semua akan tercemar dengan Limbah yang bersarang dan bercampur dengan air tanah.

“Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga diharapkan agar intens melakukan sosialisasi terhadap pelaku usaha di kota Ternate agar semuanya tertib terhadap aturan yang berlaku,” Harapnya

Syarif juga menawarkan jasa konsultasi gratis terhadap proses pembuatan IPAL bagi pelaku usaha, dan Syarif juga bisa membantu pembuatan IPAL dengan murah tapi dapat dipertanggungjawabkan sesuai peraturan yang berlaku. (nn)

Komentar Facebook

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.